Anti virus Indonesia (Smadav 2009 Rev. 7.2)

Anti virus Indonesia (Smadav 2009 Rev. 7.2)
Smadav 2009 Revisi 7.2 diluncurkan. Pada Rev. Terbaru telah dilakukan perbaikan berbagai bug, dan penambahan teknologi baru di dunia antivirus yaitu, Smad-Lock, fungsinya untuk mengunci flashdisk Anda sehingga hampir tidak mungkin terinfeksi virus. Serta berbagai penambahan fitur dan perbaikan lainnya.
Smad-Lock
Flashdisk adalah sumber utama penyebaran virus di Indonesia, sebagian besar kasus infeksi virus di Indonesia berasal dari pertukaran flashdiskd dari satu komputer dengan komputer lainnya. Jadi, kalau kita mampu menjaga agar flashdisk tidak terinfeksi virus dari komputer lain maka tentunya komputer kita akan aman dan tidak akan sekali-kali terinfeksi virus.
Jadi, solusi terbaik untuk mencegah penularan virus melalui flashdisk adalah dengan menggunakan teknologi pengunci flashdisk untuk file autorun.inf. Jadi, virus tidak akan mampu membuat file autorun.inf di flashdisk Anda, tentunya setelah flashdisk dikunci oleh Smad-lock Smadav. Tidak hanya sampai di sini, Smad-Lock juga membuat suatu folder yang bernama Smad-Lock (dengan karakter segitiga bagian kiri dan kanan). Folder ini adalah folder teraman dari infeksi virus. Virus hampir tidak mungkin dapat memasuki dan menginfeksi folder ini dan semua file di dalamnya. Jadi, semua file yang Anda letakkan di dalamnya SANGAT AMAN dari infeksi virus. Tetapi Anda tidak boleh me-rename nama folder ini sedikitpun. Folder ini sebaiknya hanya diisi dengan file yang dibuka dengan program buatan Microsoft, serperti Office (berjenis DOC, XLS, PPT, dan semua file Office sejenisnya). Tapi, sebenarnya Anda juga dapat mengisi folder ini dengan file bukan berjenis dokumen Office, seperti: EXE, ZIP, RAR, tapi sebaiknya ketika Anda membuka file tersebut jangan langsung di dalam folder ini, Anda sebaiknya memindahkan file tersebut ke luar folder ini terlebih dahulu sebelum membukanya.
Selain di atas, juga ditambahkan berbagai pendeteksi varian virus-virus baru. Juga perbaikan dan penyempurnaan berbagai fitur sebelumnya dan berbagai fitur tambahan lainnya.

Download Smadav 2009 Rev. 7.2 (update 04 Nopember 2009)
heryantono.com

Portal

Portal
Salah satu fasilitas yang ada di web yang bisa dimanfaatkan untuk mencari suatu informasi di internet adalah portal, baik portal maupun search engine, keduanya mempunyai kemiripan bahkan ada search engine yang juga berfungsi sebagai portal contohnya (www.astaga.com)
Lalu apakah portal itu sebenarnya. Portal adalah suatu layanan pada web yang juga mempunyai database yang sangat banyak mengenai informasi dan didalamnya terdapat berbagai macam berita-berita uptodate, atau bisa dikatakan portal itu mirip dengan media informasi yang pada umumnya kita gunakan, apakah berupa koran ataupun majalah dan lain-lain, yang didalamnya memuat berbagai macam informasi yang setiap saat dapat berubah, sesuai dengan ke aktualan berita tersebut. Mungkin dengan adanya portal ini maka bagi para pengguna internet dapat memanfaatkannya sebagai alternatif dari media cetak (koran) yang selama ini sering digunakan.
Beberapa portal yang terkenal antara lain:
• Iklan baris, merupakan portal yang didalamnya menyediakan berbagai macam penawaran barang dan jasa, seperti komputer, handphone, automotive dan masih banyak lagi baik yang masih baru maupun yang bekas, penjualan software-software tertentu (www.iklanbaris.co.id)
• Onklik, merupakan portal informasi didalamnya sangat aktual bahkan sampai mengenai alamat-alamat wartel di jabodetabek (www.onklik.com)
• Astaga, juga merupakan portal yang berfungsi sebagai search engine (www.astaga.com)
• Eramuslim, merupakan portal yang didalamnya terdapat berbagai macam bahasan mengenai keislaman (www.eramuslim.com)
• Detik, merupakan salah satu portal yang berada di indonesia yang didalamnya memuat berbagai macam informasi yang aktual termasuk harga dollar dan kurs saham (www.detik.com). Dan lain-lain.

Lembaga Pengembangan Komputerisasi (LePKom)-Universitas Gunadarma
-Pengantar Internet-

Cara efektif menggunakan google

Cara Efektif Menggunakan Search Engine
Menggunakan search engine merupakan cara yang biasa diempuh untuk mencari informasi tertentu yang dibutuhkan di world wide web (www). Namun demikian, tidak jarang penggunan search engine memberikan hasil yang mengecewakan, semata-mata karena pemakai melakukan (query) dengan cara yang kurang tept. Tips-tips berikut diharpkan dapat menuntun anda menggunakan search engine secara efektif untuk menemukan informasi yang dibutuhkan:
1. Gunakan search engine yang tepat
Sebagian search engine saat ini, lebih banyak menampilkan iklan daripada hasil pencarian yang sesungguhnya. Disamping itu banyak pula pengelola situs search engine yang kolaps, dan tidak lagi mengupdate databasenya. Untuk saat ini, Yahoo (www.yahoo.com) dan Google (www.google.com) merupakan pilihan yang paling terpercaya.
2. Jangan gunakan keyword yang terlalu umum
Bayangkan, berapa banyak hasil pencarian yang akan diperoleh apabila hanya memasukkan kata kunci (telescope) dalam mesin pencari. Akan berbeda hasilnya apabila hanya menggunakn kata kunci berupa teleskop dari jenis ataupun merk tertentu.
3. Masukkan keyword secara singkat namun jelas
Banyak orang memasukkan kata kunci yang berderet-deret sehingga mengacaukan hasil pencarian. Menuliskan kata kunci seperti Short biography of astronomer Edwin Hubble, akan mengeluarkan setumuk halaman yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang dicari dibandingkan dengan keyword yang lebih sederhana, misalnya Hubble biography. Dismaping itu, perhatikan ejaan dari kata kunci yang dimasukkan. Kesalahan ejaan pada kata kunci dapat menyebabkan hasil yang akan diperoleh jauh dari harapan.
4. Gunakan operator Boolean
Kata kunci ”AND”, ”OR”, ”NOT”, dengan kombinasinya akan sangat membantu situs-situs yang lebih spesifik. Misalnya pada keyword Hubble AND biography NOT telescop akan membawa anda ke halaman yang membahas tentang biografi Edwin Hubble dan menghindari masuknya halaman tentang teleskop antriksa dengan nama yang sama pada hasil pencarian tersebut.
5. Gunakan tanda kutip untuk satu frase utuh
Beberapa search engine mensyaratkan penggunaan tanda kutip untuk menunjukkan satu frase kalimat. Misalnya, penggunaan kata kunci Hubble Space Telescope dengan ”Hubble Space telescope” akan memberikan hasil yang lebih akurat. Penggunaan tanda kutip juga dapat dikombinasikan dengan operator boolean untuk mendapatkan hasil yang lebih spesifik, misalnya ”Hubble Space Telescope” AND launch.
6. Manfaatkan Direktori
Beberapa search engine menyediakan fasilitas direktori yang menuju ke topik-topik tertentu yang sudah diklasifikasikan sedemikian rupa untuk memudahkan proses pencarian. Search engine yang menggunakan direktori antara lain yahoo (www.yahoo.com) , Lycos, dan Altavista. Untuk mencari informasi yang berkaitan dengan indonesia, disarankan untuk menggunakan direktori lokal indonesia Catcha (www.catcha.co.id), Searchindonesia, Naver atau incari.
7. Manfaatkan fitur khusus dari search engine anda
Beberapa search engine tidak hanya menyediakan fasilitas untuk pencarian artikel, namun juga file-file multimedia seperti gambar, MP3, dan bahkan rekaman radio. Sementara itu, search engine semacam MetaCrawler (www.metacrawler.com) mengirimkan perintah pencarian kebeberapa search engine sekaligus dan menampilkan hasilnya dalam satu halaman. Anda dapat mempelajarifitur-fitur khusus pada search engine favorite anda untuk mengeksploitasi penggunaannya secara maksimal.
8. Gunakan fungsi ”Find” pada browser
Ketika search engine menampilkan halaman tertentu, belum tentu akan langsung ditemukan apa yang sebenarnya dicari. Anggaplah upaya pencarian biografi Edwin Hubble yang dilakukan membawa anda ke halaman apa dan siapa ,/astro/who.php. di bagian astronomi pada situs ini. Jangan lantas kebingungan dulu ketika di halaman ini anda tidak menemukan artikel yang anda cari. Gunakan fungsi ”find” [Ctrl+F) pada bowser anda dan ketikkan /Hubble/. Nah, kini and bisa membaca artikel tentang Edwin Hubble yang anda cari-cari itu.

Lembaga Pengembangan Komputerisasi (LePKom)-Universitas Gunadarma
-Pengantar Internet-

Skala dalam statistik

Skala data dalam statistik
Didalam dunia nyata terdapat beraneka ragam jenis data yang dapat digunakan untuk penarikan suatu kesimpulan penelitian. Namun secara umum, berbagai jenis data tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat (4) jenis data, mulai dari yang paling lemah hingga yang paling kuat, yaitu nominal, ordinal, interval, dan rasio.
Dalam melakukan analisis statistik, perbedaan jenis data ini sangat berpengaruh terhadap pemilihan model atau alat uji statistik. Tidak sembarang jenis data dapat digunakan oleh jenis alat uji tertentu. Dengan demikian, anda harus sangat berhati-hati memilih dan menggunakan rumus uji statistik, jika belum mengetahui jenis dan macam data yang akan digunakan. Dalam aplikasi SPSS, perhatian terhadap jenis data ini sudah mulai ditekankan pada saat melakukan proses pemasukan data pada Data Editor.
Untuk melakukan pengukuran terhadap jenjang data tersebut, maka terdapat empat macam jenis skala pengukuran, yakni :
1. Skala Nominal
Skala ini merupakan tingkat pengukuran yang paling sederhana, dimana angka yang diberikan kepada objek hanya mempunyai arti sebagai label saja dan tidak menunjukkan tingkatan apa-apa. Objek dikelompokkan kedalam set-set, dan kepada semua anggota set ditandai dengan angka. Set-set tersebut tidak boleh tumpang tindih dan bersisa (mutually exclusive and exhaustive). Jika data dihimpun dapat dibedakan menjadi beberapa kategori tanpa memperhatikan urutan tertentu, maka tingkat pengukuran yang dapat digunakan adalah tingkat pengukuran nominal.
Model data yang dapat diukur dengan skala ini, misalkan data jenis kelamin, yang terdiri dari laki-laki dan wanita. Masing-masing data ini dapat diberikan kode dengan angka 1 untuk laki-laki dan dan 2 untuk wanita. Tetapi angka 1 dan 2 tersebut tidak menunjukkan tingkatan tertentu. Tidak berarti 2 lebih besar dari 1, dsb. Contoh lain model data yang dapat diukur dengan skala ini yaitu suku bangsa, agama, dsb.

2. Skala Ordinal
Skala ini merupakan tingkat ukuran kedua, dimana angka-angka yang diberikan kepada set data memiliki pengertian tingkat tertentu. Ukuran ini digunakan untuk mengurutkan objek dari yang terendah hingga terringgi dan sebaliknya. Ukuran ini tidak memberikan nilai absolut terhadap objek data, tetapi hanya memberikan urutan ranking saja. Jika data dihimpun dapat dibedakan menjadi beberapa kategori yang berbeda dengan memperhatikan urutan, maka tingkat pengukuran yang dapat digunakan adalah tingkat pengukuran ordinal.
Misalnya terhadap data prestasi mahasiswa yang mendapatkan nilai A, B, C, D dan E. Dimana nilai A = sangat istimewa, B = istimewa, C = baik, D = cukup, E = tidak lulus. Prestasi mahasiswa ini dapat dirangking dimana dinilai A=1, B=2, C=3, D=4, dan E=5. Ranking 1 tentunya lebih tinggi dari ranking 2, dst. Sekalipun data ini beranking, namun tidak perlu diperhatikan jarak datanya harus sama. Sebab, dalam pengukuran ini belum diperhatikan interval data. Contoh lain model data yang dapat diukur dengan skala ini yaitu status sosial ekonomi (tinggi-menengah-rendah), kepangkatan dalam militer (perwira-bintara-tamtama), dsb.

3. Skala Interval
Skala ini merupakan tingkat pengukuran ketiga, dimana pemberian angka kepada set objek yang memiliki sifat ordinal, ditambah dengan satu sifat lain yakni jarak (interval) yang sama. Walau demikian, ukuran ini tidak memberikan jumlah absolut pada data yang diukur. Pada skala ini penetapan titik pusat dapat berubah-ubah.
Contohnya : data untuk ukuran ini dapat dimanfaatkan data pada skala ordinal, dimana terdapat nilai mahasiswa A=1, B=2, C=3, D=4, E=5. pada data ini jarak data menjadi syarat pengukuran. Dimana jika diperhatikan beda jarak antara ke-empat data ini masing-masing tingkatannya adalah 1. Contoh lainnya angka-angka tanggal pada kalender yaitu misalnya jarak antara tanggal 25 dan 29 sama dengan jarak antara tanggal 16 dan 20, sama-sama berjarak 4.

4. Skala Rasio
Skala ini merupakan tingkat pengukuran tertinggi, dimana ukuran ini mencakup semua persyaratan 3 jenis ukuran sebelumnya, ditambah dengan satu sifat lain yakni ukuran ini memberikan nilai absolut pada data/objek yang akan diukur. Ukuran rasio ini memiliki titik nol (0) yang dapat dilakukan terhadapnya proses penjumlahan, perkalian dan pembagian.
Contoh data seperti ini banyak sekali, seluruh teknik analisis statistik dapat digunakan untuk menganalisis variabel-variabel yang berskala rasio. Misalnya data tentang berat badan manusia(berat badan sebesar 40 kg adalah dua kali berat badan 20 kg), data laju perkembangan penduduk, data jumlah produksi tanaman, data nilai mahasiswa, dll yang merupakan data bebas.

Seminar dan kegiatan ku di UG

Seminar yang pernah diikuti:
1. Berkenalan dengan Psikologi Transpersonal di Universitas Gunadarma (2007)
2. Life Evolution Training with Walk On Fire di Universitas Gunadarma (2008)

Kegiatan / Prestasi yang pernah diikuti / diraih di Universitas Gunadarma-Depok:
1. PKM-P (Program Kreativitas Mahasiswa-Penelitian) tahun 2008 yang di danai oleh Dikti dengan tema “Kontribusi Kreativitas dan Harga Diri terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa”..
2. Asissten Laboratorium Internet Dasar 2 – Universitas Gunadarma
Tahun 2008 – Sekarang
3. Mendapatkan Beasiswa BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa) berturut-turut tiap tahun dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui Kopertis Wilayah III Jakarta tahun 2006, 2007, 2008, dan 2009 di Universitas Gunadarma

TUGAS 2: Dampak Negatif dan Positif Jejaring Sosial

Dampak Negatif dan Positif Jejaring Sosial
FRIENDSTER

Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang semakin pesat menyebabkan banyaknya penemuan yang dapat memudahkan aktivitas manusia. Teknologi tersebut membantu manusia dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang timbul dari batas-batas jarak, ruang, dan waktu. Penemuan teknologi internet semakin memudahkan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya pada jarak yang sangat jauh. Melalui teknologi internet ini, berita dapat ditampilkan dengan cara yang sangat ringkas dan sangat mudah untuk disebarkan ke seluruh penjuru dunia.
Internet merupakan kumpulan orang dan komputer didunia yang seluruhnya terhubung oleh bermil-mil kabel dan saluran telepon, masing-masing pihak dapat berkomunikasi karena menggunakan bahasa yang umum dipakai (Lembaga Pengembangan Komputerisasi, 1999).
Perkembangan dunia cyber dewasa ini sudah semakin pesat. Penggunaannya pun sudah mencapai suatu taraf yang sangat komplek. Internet yang berkembang sebagai media yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat di berbagai belahan dunia menjadikan setiap orang memperoleh kesempatan untuk mengakses informasi apapun dengan cepat. Situs di internet merupakan jendela dari berbagai informasi, dan keragamannya memungkinkan setiap orang dapat memperoleh informasi yang diinginkan tersaji secara lengkap di layar, bahkan berinteraksi dan melakukan transaksi dengan penyedia jasa tersebut atau hanya sekedar bertukar informasi.
Friendster adalah sebuah situs untuk melihat seluruh orang secara manual, dimana di situs itu berguna untuk melihat melihat teman-teman seperkenalan kita, baik yang pernah bertemu atau tidak. Dan juga friendster itu bisa meletakkan profil ( biodata, foto, dsb ). Dengan friendster kita mendapatkan informasi yang kita inginkan misalnya tentang teman-teman kita atau suatu group music atau yang lainnya. Tapi dengan semua itu ada dampaknya baik buruk.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dampak penggunaan friendster dapat mempengaruhi perilaku pada remaja.

Teori
Tentang Friendster
Dengan lebih dari 115 juta anggota di seluruh dunia, Friendster adalah jejaring sosial online global terkemuka. Friendster berfokus membantu orang tetap berhubungan dengan teman serta menemukan orang dan hal baru yang penting untuk mereka. Friendster salah satu dari situs terbaik yang memungkinkan orang ikut serta dengan orang lain dalam cara yang menarik dan menyenangkan. Friendster membanggakan dirinya dalam menyampaikan lingkungan yang mudah digunakan, bersahabat dan interaktif di mana pengguna dapat berhubungan dengan mudah dengan siapa saja di seluruh dunia melalui www.friendster.com atau m.friendster.com dari alat mudah-pindah mana pun yang terhubung dengan Internet. Friendster punya banyak portfolio paten yang diberikan kepada perusahaan ini mengenai jejaring sosial, dengan banyak lagi diperkirakan pada beberapa bulan mendatang. Friendster, yang berkantor pusat di Mountain View, California, didukung oleh Kleiner Perkins Caufield & Byers, Benchmark Capital, DAG Ventures, IDG Ventures dan penanam modal perorangan.
Friendster Peroleh Paten Jejaring Sosial Kelima dan Perluas Portofolio
Friendster, Inc., situs web global terkemuka berdasarkan lalu-lintas, hari ini mengumumkan bahwa Kantor Paten dan Merek Dagang AS telah memberi perintis jejaring sosial tersebut Paten AS baru, yang bertajuk “Metode untuk Berbagi Informasi Hubungan yang tersimpan dalam Database Jejaring Sosial dengan Database Pihak Ketiga” (U.S. Patent No 7.478.078).
Friendster telah diberikan lima paten sejak Juli 2006, yang mengesahkan inovasi awal dan terus-menerus perusahaan dalam jaringan sosial online.
Paten terbaru Friendster menggambarkan teknologi di mana informasi jaringan sosial yang dipelihara dalam satu database dapat digunakan bersama dengan database kedua. Ia juga menggambarkan bagaimana operator database kedua dapat menggunakan informasi jaringan sosial tersebut untuk mengatur layanan yang diberikan kepada pelanggan mereka dan mentargetkan informasi tertentu kepada pelanggan mereka.
Paten ini khususnya menggambarkan teknologi tersebut sebagai permintaan kepada server aplikasi database pertama oleh server aplikasi database kedua, untuk informasi jaringan sosial yang relevan dengan serangkaian individu. Permintaan ini dapat mencakup informasi pengidentifikasi masing-masing individu dalam aturan ini. Database pertama kemudian mencari kecocokan dengan informasi pengidentifikasi dalam permintaan. Jika terdapat kecocokan, informasi jaringan sosial yang relevan dengan orang-orang yang cocok ini dibagi dengan database kedua.
“Friendster terus membangun dan memiliki portofolio hak paten signifikan, sejak diluncurkan pada tahun 2002 sebagai jejaring sosial online pertama, “kata Richard Kimber, kepala eksekutif Friendster. “Kelima paten kami mencakup banyak komponen utama jejaring sosial, termasuk menetapkan koneksi, berbagi dan mendistribusikan isi, mengelola koneksi seiring berjalannya waktu, menaksir kesesuaian antara pengguna, dan berbagi informasi dengan database pihak ketiga. Kami ingin menerima beberapa paten lagi dalam waktu dekat.”
Friendster diberikan empat paten jejaring sosial antara 2006 dan 2009:
1. Pada Juli 2006, Friendster mendapat paten Amerika pertama yang menggambarkan bagaimana orang-orang terhubung dalam konteks jejaring sosial online, yang bertajuk “Sistem, Metode dan Peralatan untuk Menghubungkan Pengguna dalam sebuah Sistem Komputer Online Berdasarkan Hubungan Mereka dalam Jejaring Sosial” (U. S. Patent No 7.069.308).
2. Friendster diberikan paten AS kedua pada bulan Oktober 2006, yang mengungkapkan proses memperkaya profil pengguna lain dengan teks, video, gambar dan konten tambahan, yang bertajuk “Metode Merangsang Upload Konten dalam Jejaring Sosial “(US Patent No 7.117.254).
3. Pada Maret 2007, Friendster menambahkan paten lain atas portofolionya, yang bertajuk “Sistem dan Metode untuk Mengelola Sambungan dalam Jejaring Sosial Online” (US Patent No 7.188.153), yang menggambarkan teknologi yang mengatur sambungan dalam jaringan sosial dan memungkinkan anggota jaringan sosial menambahkan teman, menyesuaikan jaringan mereka menurut selera melalui pengaturan, pemesanan dan penggolongan hubungan mereka, serta mencari dan melihat-lihat profil anggota lain jaringan sosial.
4. Pada bulan Desember 2008, Friendster diberikan paten keempat, yang bertajuk “Penilaian Kesesuaian Pengguna Jaringan Sosial” (US Patent No 7.451.161), yang mengungkapkan metodologi unik yang digunakan untuk menghitung kecocokan berdasarkan kepentingan antara pengguna jaringan sosial. Ini termasuk menilai kecocokan antara dua anggota jaringan sosial berdasarkan kepentingan mereka dan menilai korelasi antara dua kepentingan untuk anggota tertentu jaringan sosial.

Pembahasan
Dampak Positif dan Negatif dari Friendster
Dampak Positif Friendster:
1). Dengan friendster kita jadi banyak teman dengan cara berkenalan dengan orang yang belum kita kenal baik interlokal maupun internasional.
2). Kita bisa share dan discuss tentang interest kita, misalnya kita lagi suka film barat atau suka anime, dll dengan orang lain.. Dengan berdiskusi tentang hal itu wawasan kita bertambah, bukan hanya wawasan kita saja tapi wawasan orang yang kita ajak diskusi juga bertambah.
3). Di Friendster ada fasilitas bulletin, jadi kalo kita ingin memberikan pengumuman, kita dapat menulis di bulletin itu dan hal yang kita tulis dapat dibaca semua teman-teman kita. Menjadi lebih mudah untuk memberikan informasi yang cepat kepada teman-teman kita dan dengan adanya bulletin kita dapat menulis tulisan kita seperti curhat.
4). Jika kita sudah lost contact dengan teman lama kita, dengan hanya berbekal alamat email orang itu, kita dapat mencarinya di friendster, jika dia memiliki friendster, kita bisa keep in touch lagi sama dia. Jadi dapat bernostalgia kembali dengan teman-teman lama kita itu.
Dampak Negatif Friendster dan Cara Mengatasinya:
1). Dengan keasyikan bermain friendster, kita jadi lupa waktu dan akhirnya jadi lupa belajar dan mengerjakan tugas. Solusinya yaitu membatasi waktu bermain internet kita. Jadi, kita harus dapat mengatur waktu untuk belajar dan bermain internet. Maksudnya bukan waktu belajar kita jadi 8 jam, dan waktu bermain internetnya cuma 5 menit. Bukan seperti itu Tapi, kalian hanya kontrol dan memprioritaskan hal yg lebih penting daripada bermain friendster.
2). Mungkin dengan adanya sarana friendster ini, kalian jadi bisa mentransfer-transferan gambar-gambar porno atau video-video porno dengan teman-teman, dan ini sudah pasti tidak boleh.. Saran saya, kalau kalian pernah melakukan hal itu, lebih baik ingat agama..
3). Dengan kelamaan bermain friendster tagihan internet naik. Dan hal itu dapat membebani kedua orang tua kita, meskipun mereka tidak mengatakan. Tujuan mereka memasang internet di rumah itu agar kita jadi mengetahui informasi lebih banyak yang membuat wawasan kita bertambah. Jadi kita jangan menyalahgunakan itu dengan bermain internet berlama-lama. Mungkin sehari cukup 3 jam atau saran saya yang lainnya lebih baik bermain di warnet agar tagihan internet dirumah kita tidak naik.

Daftar Pustaka
Anonim. (2009). Lima situs jejaring sosial paling populer. Akses tanggal 18 November 2009. Http://decib.wordpress.com
Guest. (2009). Penelitian tentang friendster. Akses tanggal 18 November 2009. Http://www.slideshare.net/omcivics/penelitian tentang friensdster.html
Nadhira. (2008). Dampak positif dan negatif sebuah fiendster. Akses tanggal 18 November 2009. .http://dhun-kimmy.blogspot.com/2008/04/dampak-positif-dan-negatif-sebuah.html
Pers. (2009). Friendster Peroleh Paten Jejaring Sosial Kelima dan Perluas Portofolio. Akses tanggal 18 November 2009. .http://ANTARAnews.com

TUGAS I: Tema: Pengaruh Internet bagi gaya hidup manusia di kota besar

Tema: Pengaruh Internet bagi gaya hidup manusia di kota besar
Pengaruh Teknologi Informasi khususnya Internet dalam pergaulan remaja di Pulau Bawean ( Sebelah Utara Pulau Jawa )

Latar Belakang
Kemajuan teknologi saat ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia kini telah dapat langsung kita ketahui berkat kemajuan teknologi (globalisasi). Kalau dahulu kita mengenal kata pepatah “dunia tak selebar daun kelor”, sekarang pepatah itu selayaknya berganti; dunia saat ini selebar daun kelor, karena cepatnya akses informasi di berbagai belahan dunia membuat dunia ini seolah semakin sempit dikarenakan kita dapat melihat apa yang terjadi di Amerika misalnya, meskipun kita berada di Indonesia.
Tentu kemajuan teknologi ini menyebabkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya. Perubahan ini juga memberikan dampak yang begitu besar terhadap transformasi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Khususnya masyarakat dengan budaya dan adat ketimuran seperti Indonesia. Saat ini, di Indonesia dapat kita saksikan begitu besar pengaruh kemajuan teknologi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang di anut masyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan (modernisasi).
Kemajuan teknologi seperti televisi, telepon dan telepon genggam (HP), bahkan internet bukan hanya melanda masyarakat kota, namun juga telah dapat dinikmati oleh masyarakat di pelosok-pelosok desa. Akibatnya, segala informasi baik yang bernilai positif maupun negatif, dapat dengan mudah di akses oleh masyarakat. Dan di akui atau tidak, perlahan-lahan mulai mengubah pola hidup dan pola pemikiran masyarakat khususnya masyarakat pedesaan dengan segala image yang menjadi ciri khas mereka.
Hal yang sama terjadi di Bawean. Sebuah pulau kecil yang terletak sekitar 12 mil di sebelah utara Pulau Jawa ini pun tak luput dari pengaruh kemajuan teknologi (modernisasi) yang melanda belahan dunia saat ini. Banyaknya penduduk pulau Bawean yang tinggal di luar pulau maupun di luar negeri termasuk salah satu dari sekian banyak faktor yang mendukung pesatnya kemajuan teknologi di pulau Bawean ini. Memang, tak dapat di pungkiri bahwa salah satu faktor pendukung kemajuan suatu daerah, terutama daerah terpencil seperti Bawean ini adalah intensitas interaksinya dengan dunia luar atau daerah lain.
Bagaimana banyaknya penduduk pulau Bawean yang tinggal di luar pulau terutama luar negeri dikatakan menjadi faktor yang mendukung pesatnya kemajuan teknologi yang ada di pulau Bawean? Hal ini erat kaitannya dengan pendapatan perekonomian masyarakat yang di dapat dari hasil mereka di luar negeri tersebut. Karena, umumnya, mereka yang bekerja di luar negeri, taraf ekonominya relatif meningkat dan secara langsung ataupun tidak langsung menyebabkan perubahan gaya hidup. Dari yang tidak punya televisi menjadi punya televisi lengkap dengan antenna parabola yang dapat menangkap siaran saluran (channel) dari luar negeri, dari yang tidak punya Hand Phone menjadi punya Hand Phone keluaran terbaru sekalipun. Bahkan mereka dapat membeli personal komputer (laptop) yang di lengkapi dengan teknologi yang dapat di gunakan untuk mengakses internet secara langsung (wireless). Begitulah asimilasi dan dampaknya terjadi di tengah-tengah masyarakat Bawean saat ini.
Beberapa waktu yang lalu, pesatnya kemajuan teknologi di pulau Bawean semakin semarak dengan masuknya broadband internet dengan akses cepat (Speedy) ke pulau Bawean. Hal ini patut kita syukuri, mengingat begitu cepatnya kemajuan akses informasi saat ini menyebabkan kebutuhan internet adalah niscaya bagi masyarakat Bawean, agar mereka menjadi masyarakat yang tidak ketinggalan informasi. Meskipun hadirnya akses internet cepat (Speedy) di pulau Bawean harus kita syukuri, bukan berarti kita tidak perlu waspada dengan segala dampak yang akan timbul dari masuknya internet ke pulau Bawean tersebut. Karena seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan adanya akses internet ini, tentu dia membawa dampak yang positif dan juga negatif terhadap kehidupan masyarakat di pulau Bawean, terutama kaum remaja yang selalu tertarik untuk mencoba hal-hal baru, sedang dari segi psikologis, kondisi kejiwaan mereka merupakan usia yang paling rawan terhadap pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Untuk itu peneliti ingin meneliti lebih lanjut pengaruh internet tersebut terhadap gaya hidup dan pola pikir remaja di pulau Bawean.

Teori
Internet
Perkembangan teknologi yang semakin pesat menyebabkan banyaknya penemuan yang dapat memudahkan aktivitas manusia. Teknologi tersebut membantu manusia dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang timbul dari batas-batas jarak, ruang, dan waktu. Penemuan teknologi internet semakin memudahkan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya pada jarak yang sangat jauh. Melalui teknologi internet ini, berita dapat ditampilkan dengan cara yang sangat ringkas dan sangat mudah untuk disebarkan ke seluruh penjuru dunia.
Internet merupakan kumpulan orang dan komputer didunia yang seluruhnya terhubung oleh bermil-mil kabel dan saluran telepon, masing-masing pihak dapat berkomunikasi karena menggunakan bahasa yang umum dipakai (Lembaga Pengembangan Komputerisasi, 1999).
Perkembangan dunia cyber dewasa ini sudah semakin pesat. Penggunaannya pun sudah mencapai suatu taraf yang sangat komplek. Internet yang berkembang sebagai media yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat di berbagai belahan dunia menjadikan setiap orang memperoleh kesempatan untuk mengakses informasi apapun dengan cepat. Situs di internet merupakan jendela dari berbagai informasi, dan keragamannya memungkinkan setiap orang dapat memperoleh informasi yang diinginkan tersaji secara lengkap di layar, bahkan berinteraksi dan melakukan transaksi dengan penyedia jasa tersebut atau hanya sekedar bertukar informasi.
Budaya global tersebut secara positif memiliki muatan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial dan kebudayaan, tetapi secara negatif juga bermuatan materi pornografi yang mempertontonkan dan memperdengarkan perilaku seksual melalui media majalah, surat kabar, tabloid, buku-buku, televisi, radio, internet, film-film, dan video. Teknologi informasi tersebut memungkinkan setiap orang dapat berkomunikasi secara interaktif mengenai hal-hal yang berorientasi seksual secara online melalui internet (Syarif, 2008).
Internet sebagai media penyebaran informasi global dirasakan manfaatnya sejak pertengahan dasawarsa 90-an, baik untuk kepentingan bisnis maupun personal, di Indonesia. Jumlah penggunanya pun makin meningkat mulai dari angka 500 ribuan di tahun 1998 menjadi 8 jutaan di tahun 2003. Bahkan sampai akhir tahun 2004 ini jumlah penggunanya diperkirakan mencapai angka 12 juta orang.
Salah satu komunitas pemanfaat jasa internet terbesar di Indonesia adalah kelompok usia sekolah dan mahasiswa. Karenanya, diperlukan upaya sistematis dan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang efektif.

Remaja
1. Definisi Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata Latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Bangsa primitif demikian pula orang-orang zaman purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode-periode lain dalam rentang kehidupan, anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi (Hurlock, 1999).
Istilah adolescence, seperti yang dipergunakan saat ini, mempunyai arti yang lebih luas, menckup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh piaget dengan mengatakan bahwa secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana indiviu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok.
Remaja menurut WHO adalah kelompok penduduk yang berusia antara 10 – 19 tahun dengan ciri-ciri sedang mengalami masa transisi baik secara biologis (fisik), psikologis atau jiwa maupun sosial ekonomi dalam sebuah keluarga di masyarakat.
Masa remaja, menurut Stanley Hall, seorang bapak pelopor psikologi perkembangan remaja (Santrock dalam Dariyo, 2004), dianggap sebagai masa topan badai dan stress (storm and stress), karena mereka telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib diri sendiri. Kalau terarah dengan baik, maka ia akan menjadi seorang individu yang memiliki rasa tanggungjawab, tetapi kalau tidak terbimbing, maka bias menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik. Stanley Hall (Santrock dalam Dariyo, 2004) usia remaja antara 12 sampai usia 23 tahun.
Menurut Gunarsa (1991), istilah asing yang sering digunakan untuk menunjukkan masa remaja antara lain adolescentia berasal dari istilah latin adolescentia yang berarti masa muda yang terjadi antara 17 – 30 tahun yang merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial. Proses perkembangan psikis remaja dimulai antara 12 – 22 tahun. Untuk menjadi orang dewasa, mengutip pendapat Erikson, maka remaja akan melalui masa krisis di mana remaja berusaha untuk mencari identitas diri (Search for self – Identity) (Dariyo, 2004).
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Penggolongan remaja menurut Thornburg (1992) terbagi menjadi tiga tahap, yaitu remaja awal (usia 13 – 14 tahun), remaja tengah ( usia15 – 17 tahun), dan remaja akhir (usia 18 – 21 tahun). Masa remaja awal, umumnya individu telah memasuki pendidikan di bangku sekolah menengah tingkat pertama (SLTP), sedangkan masa remaja tengah individu sudah duduk di sekolah menengah atas (SMU). Kemudian mereka yang tergolong remaja akhir, umumnya sudah memasuki dunia perguruan tinggi atau lulus SMU dan mungkin sudah bekerja.
Remaja memasuki usia subur dan produktif. Artinya secara fisiologis, mereka telah mencapai kematangan organ-organ reproduksi, baik remaja laki-laki maupun remaja wanita. Kematangan organ reproduksi tersebut, mendorong individu untuk melakukan hubungan sosial baik dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Mereka berupaya mengembangkan diri melalui pergaulan, dengan membentuk teman sebayanya (peer-group). Pergaulan bebas yang tak terkendali secara normatif dan etika-moral antarremaja yang berlainan jenis, akan berakibat adanya hubungan seksual diluar nikah (sex pre-marital).
Papalia dan Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa sedangkan Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan (dalam Jomla, 2009).
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock dalam Jomla, 2009).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.
Jadi, remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menjadi dewasa dimana rentang usianya berkisar antara usia 13 – 21 tahun yang secara fisiologis telah mencapai kematangan organ-organ reproduksi, baik remaja laki-laki maupun perempuan yang mendorong individu untuk melakukan hubungan sosial dengan lawan jenisnya serta terjadinya perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan kepribadian dan sosial.

2. Ciri-ciri dan Karakteristik Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja (Dariyo, 2004) yaitu:
a. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
b. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
c. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
d. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
e. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.
Ciri-ciri masa remaja menurut Hurlock ada delapan, yaitu:
a. Masa remaja sebagai periode yang penting. Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru.
b. Masa remaja sebagai periode peralihan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Status memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.
c. Masa remaja sebagai periode perubahan. Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat. Kalau perubahan fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga.
d. Masa remaja sebagai usia bermasalah. Masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik anak laki-laki maupun perempuan. Pertama, sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya. Sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru. Karena ketidakmampuan mereka untuk mengatasi sendiri masalahnya menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesainnya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka.
e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Pada tahun-tahun awal masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat alun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal, seperti sebelumnya. Erikson menjelaskan bagaimana identitas diri mempengaruhi perilaku remaja yakni remaja selalu siap untuk mendaptkan idola dan ideal mereka sebagai pembimbing dalam mencapai identits.
f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan. Anggapan stereotipe budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapih, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak dan berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal. Anthony (dalam Santrock, 2003) menjelaskan, stereotipe juga berfungsi sebagai cermin yang ditegakkan masyarakat bagi remaja, yang menggambarkan citra diri remaja sendiri yang lambat laun dianggap sebagai gambaran yang asli dan remaja membentuk perilakuny sesuai dengan gambaran ini. Hal ini menimbulkan banyak menimbulkan ertentangan dengan orang tua dan antara rang tua dan anak terjadi jarak yang menghalangi anak untuk memintabantuan orang tua untuk mengatasi berbagai masalahnya.
g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik. Dengan bertambahnya pengalaman pribadi dan pengalaman sosial, dan dengan meningkatnya kemampuan untuk berfikir rasional, remaja yang lebih besar memandang diri sendiri , keluarga, teman-teman dan kehidupan pada umumnya secara lebih realistik. Dengan demikian, remaja tidak terlampau mengalami kekecewaan seperti ketika masih lebih muda. Itu adalah salah satu kondisi yang menimbulkan kebahagian yang lebih besar pada remaja yang lebih besar.
h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotipe belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.
Erikson (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

Pembahasan
Saat ini dapat kita lihat betapa kemajuan teknologi telah mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir masyarakat Bawean, terutama di kalangan remaja. Saya lebih menekankan dampak teknologi pada kehidupan remaja Bawean dengan alasan merekalah yang lebih dekat dan lebih banyak berinteraksi dengan teknologi seperti televisi, HP, ataupun internet. Dan juga secara pengaruh, merekalah yang paling rentan terkena pengaruh atau dampak negatif dari teknologi tersebut. Jika dahulu kita lihat para siswa bersekolah dengan hanya membawa buku-buku pelajaran ataupun alat tulis, kini dapat kita saksikan para siswa berangkat sekolah dengan HP sebagai bawaan wajib mereka. Entah sebetulnya mereka benar-benar membutuhkan HP tersebut sebagai alat komunikasi atau tidak, yang jelas bagi remaja Bawean sekarang, HP merupakan sarana gaul yang mutlak mereka miliki. Semakin bagus HP yang mereka punya, semakin merasa gaul dan percaya dirilah mereka (walaupun mungkin mereka tidak tahu bagaimana cara menggunakan fitur-fitur canggih yang mereka punya di HP mereka).
Dari mana para remaja itu memperoleh HP tersebut, Dapat di pastikan, mereka memperolehnya dari orang tua mereka masing-masing. Mayoritas para remaja di Bawean, orang tuanya bekerja di luar negeri seperti Malaysia atau Singapura. Dan umumnya, para orang tua itu merasa bangga bisa memenuhi segala kebutuhan dan permintaan anaknya tanpa mereka memperhatikan dampak yang akan timbul dari apa yang mereka para orang tua berikan pada anak. Itulah ungkapan kasih sayang orang tua yang mungkin cara penyampaiannya kurang tepat. Dengan memberi anak mereka HP keluaran terbaru yang ada fasilitas internetnya, misalnya, mereka merasa telah berhasil sebagai orang tua, tanpa mereka pertimbangkan, akan di gunakan untuk apa HP tersebut oleh anak-anak mereka.
Memberikan alat komunikasi seperti HP dan Laptop kepada anak, sesungguhnya bukan hal yang salah, karena dengan HP dan Laptop tersebut, mungkin orang tua berharap komunikasi dengan sang anak lebih mudah dan lancar, akan tetapi, hal tersebut menjadi boomerang ketika ternyata HP tersebut disalah gunakan oleh anak untuk hal-hal yang negatif seperti menyimpan foto-foto ataupun video porno dan juga di gunakan sebagai alat yang memperlancar komunikasi dengan lawan jenis untuk hal-hal yang kurang bermanfaat seperti pacaran, sehingga dengan HP tersebut berdampak negatif pada anak seperti terjadinya pergaulan bebas, seks di luar nikah dan menurunnya prestasi belajar bahkan juga bisa terjadi anak mengambil uang ataupun barang berharga milik orang tuanya tanpa izin hanya untuk membeli pulsa. Karena itu, orang tua hendaknya benar-benar mempertimbangkan matang-matang segala dampak yang akan timbul sebelum memutuskan untuk memberikan HP ataupun benda-benda lain yang sekiranya berdampak negatif terhadap perkembangan anaknya.
Ketika memutuskan untuk memberikan HP kepada anak, alangkah baiknya orang tua juga mengawasi dan mengarahkan anak agar anak tidak lepas kontrol dalam menggunakan HP. Tidak ada salahnya sewaktu-waktu kita memeriksa HP anak untuk mengetahui isi yang ada di dalamnya dengan meminta ijin anak terlebih dahulu. Karena dengan meminta ijin, anak akan merasa dihargai dan itu memberikan pengaruh yang besar terhadap pribadinya dan juga membentuk kesan positif dalam diri mereka tentang pribadi kita sebagai orang tua. Ketika kita dapati mungkin ada video porno di HP anak, jangan langsung bersikap menghakimi dan menghukum layaknya seorang polisi, akan tetapi alangkah baiknya kita tanyakan kepada anak darimana dia mendapat video itu dan untuk apa dia menyimpannya. Apapun jawaban anak, orang tua tidak boleh bersikap menghakimi dan menyalahkan anak, apalagi memarahi anak dan berlaku ringan tangan. Akan tetapi kita ajak anak berdiskusi/sharing mengenai hal tersebut, apa hal itu bermanfaat dan apa dampaknya bagi anak, dan jangan lupa, ketika berdiskusi, kita juga harus mendengarkan pendapat anak dan memberikan pengarahan yang tepat. Karena apapun alasannya, kekerasan tidak menyelesaikan masalah, sekali kita berlaku kasar apalagi main tangan terhadap anak kita, sesungguhnya kita telah menorehkan luka dihatinya, yang sampai kapanpun luka itu tidak akan pernah sembuh dan akan terus membekas di sanubarinya.
Selain HP, kemajuan teknologi di Bawean juga di tandai dengan masuknya akses internet, internet saat ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Lewat internet, mereka bisa mengakses segala informasi dari seluruh dunia. Tentu tak semua informasi yang disajikan adalah informasi yang layak di akses oleh remaja. Karena terkadang lewat internet mereka dapat dengan bebas menyaksikan segala hal yang berbau pornografi dan pornoaksi yang memang dapat di akses dengan mudah di dunia maya (internet). Hal ini tentu menimbulkan efek yang kurang baik bagi perkembangan kepribadian remaja. Dari yang semula mereka merasa tabu tentang seks, sampai akhirnya mereka melihat seksualitas yang di obral di internet tanpa pengarahan serta bimbingan yang tepat dan mereka merasa penasaran bahkan mencobanya. Karena itu, tak heran jika saat ini pergaulan remaja di Bawean menjadi sangat mengkhawatirkan dan meresahkan masyarakat terutama para orang tua.
Sebagai orang tua, seharusnya mengerti kondisi kejiwaan anak, terutama anak remaja. Menurut para ahli psikologi masa remaja merupakan masa yang paling rentan dalam perkembangan kejiwaan anak. Pada usia remaja ini, anak telah meninggalkan usia kanak-kanak dimana mereka tidak dapat disebut lagi sebagai anak kecil, tapi juga belum bisa di terima dalam kelompok orang dewasa. Pada masa ini anak telah mulai mencari-cari siapa dirinya sebenarnya (looking for identity/Identity formation), berusaha untuk menemukan kelompok atau teman-teman yang mau mengakui kemampuan dan menghargai dirinya dan telah mulai memiliki minat terhadap lawan jenis (minat seksual).
Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, dan bisa saja dalam proses pencarian jati diri itu remaja tersebut melalui jalan yang benar atau jalan yang salah. Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas, dan itu akan berdampak tidak baik terhadap perkembangan kepribadiannya dimasa yang akan datang. Itulah kenapa, masa remaja adalah masa yang paling rawan terhadap pengaruh yang datang dari luar. Baik pengaruh positif ataupun pengaruh negatif, disinilah peran sebagai orang tua di butuhkan untuk dapat membimbing dan mengarahkan anak remaja agar tidak kehilangan kontrol dirinya (self control).
Seyogyanya pula sebagai orang tua, selalu memantau perkembangan anak, dengan tanpa mengekang kreatifitas ataupun dunia anak. Karena anak memiliki dunianya sendiri, dimana mereka tinggal dengan segala imajinasi dan juga teman-teman yang mereka miliki. Tugas orang tua lah mendidik dan mengarahkan agar nanti dunia anak kita tidak hanya menjadi dunia yang dipenuhi dengan kegelapan, tapi juga dunia yang diwarnai dengan keceriaan dan kebahagiaan serta dunia dimana mereka menilai citra dirinya (image of self) secara positif dan memiliki rasa percaya diri (self esteem).
Sekarang ini, akibat produk modernisasi seperti televisi, HP ataupun internet, kita dapat melihat bahwa tak ada bedanya gaya hidup masyarakat kota dengan masyarakat desa. Budaya barat yang dahulu hanya di adaptasi dan di tiru oleh masyarakat kota, dengan adanya kemajuan teknologi juga telah melanda masyarakat di pedesaan. Budaya tolong menolong yang dahulu lekat dengan masyarakat desa, lambat laun berkurang meski tidak hilang sama sekali, berganti dengan budaya individualistik. Budaya santun dan lugu yang juga menjadi ciri khas masyarakat pedesaan perlahan mulai pudar dan berganti dengan budaya urakan yang dengan bangga mereka sebut dengan istilah gaul.
Pada hakikatnya, kemajuan teknologi dan pengaruhnya dalam kehidupan adalah hal yang tak dapat kita hindari. Akan tetapi, kita dapat melakukan tindakan yang bijaksana terhadap diri kita sendiri, keluarga dan juga masyarakat luas agar kemajuan teknologi yang semakin dahsyat ini tidak sampai menggeser jati diri kita sebagai manusia yang memiliki norma dan juga nilai-nilai pekerti yang luhur. Bagaimanapun, sebagai anggota masyarakat, dan terutama sebagai orang tua, kita harus melakukan suatu tindakan representative dan preventif, agar semaksimal mungkin dapat mencegah pengaruh negatif teknologi terhadap anak-anak kita khususnya kaum remaja yang merupakan generasi emas yang akan menjadi penerus perjuangan kita membentuk bangsa yang berakhlak dan berbudaya di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka
Santrock, J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan remaja. Edisi ke enam. Jakarta: Erlangga.
Sarwono, S. W. (2006). Psikologi remaja. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Syamlan, L. (2007). Internet “Goes to School” dari Telkom . Akses tanggal 22 September 2009. Http://Thrie.multiplay.com
Hurlock, E.B. (1999). Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga.
Wiyono, I. (2008). Pengaruh Tehnologi Informasi ke dalam pergaulan remaja (Handphone). Akses tanggal 22 Oktober 2009. Http://www.bawean.net

SUSUNAN KABINET INDONESIA BERSATU II

SUSUNAN KABINET INDONESIA BERSATU II

PRESIDEN
Susilo Bambang Yudhoyono

WAKIL PRESIDEN
Budiono

MENTERI KOORDINATOR
1. Menko Politik Hukum dan Keamanan : Marsekal (Purn) Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian : Hatta Rajasa
3. Menko Kesra : R Agung Laksono
4. Menteri Sekretaris Negara : Sudi Silalahi

MENTERI DEPARTEMEN
1. Menteri Dalam Negeri : Gamawan Fauzi
2. Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa
3. Menteri Pertahanan : Purnomo Yusgiantoro
4. Menteri Hukum dan HAM : Patrialis Akbar
5. Menteri Keuangan : Sri Mulyani
6. Menteri ESDM: Darwin Saleh
7. Menteri Perindustrian : MS Hidayat
8. Menteri Perdagangan : Mari E. Pangestu
9. Menteri Pertanian : Suswono
10. Menteri Kehutanan : Zulkifli Hasan
11. Menteri Perhubungan : Freddy Numberi
12. Menteri Kelautan dan Perikanan : Fadel Muhammad
13. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Muhaimin Iskandar
14. Menteri Pekerjaan Umum : Djoko Kirmanto
15. Menteri Kesehatan : Endang Rahayu Sedyaningsih
16. Menteri Pendidikan Nasional : Mohammad Nuh
17. Menteri Sosial : Salim Segaf Al Jufri
18. Menteri Agama : Suryadharma Ali
19. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Jero Wacik
20. Menteri Komunikasi dan Informatika : Tifatul Sembiring

MENTERI NEGARA
1. Menteri Riset dan Teknologi : Suharna Suryapranata
2. Menteri Koperasi dan UKM : Syarifudin Hasan
3. Menteri Lingkungan Hidup : Gusti Muhammad Hatta
4. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Amalia Sari Gumelar
5. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : E.E Mangindaan
6. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal : Ahmad Helmy Faishal Zaini
7. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas : Armida Alisjahbana
8. Menteri BUMN : Mustafa Abubakar
9. Menteri Pemuda dan Olahraga : Andi Alfian Mallarangeng
10. Menteri Perumahan Rakyat : Suharso Manoarfa

PEJABAT SETINGKAT MENTERI
1. Kepala BIN: Jenderal (Purn) Sutanto
2. Kepala BKPM: Gita Wirjawan
3. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto

Abstraksi PKMP (Kontribusi kreativitas dan harga diri terhadap prestasi akademik)

ABSTRAKSI

Prestasi akedemik menjadi suatu hal yang sangat dituntut di era globalisasi ini sehingga menempatkan pada posisi yang sangat dihargai oleh institusi pendidikan dan dunia kerja. Seiring dengan dituntutnya prestasi akdemik semakin banyak anggapan yang bermunculan dari berbagai pihak mengenai faktor yang mempengaruhi prestasi akademik yang hanya dilihat dari gaya belajar tanpa memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Dua diantara faktor-faktor yang kurang diperhatikan tersebut adalah harga diri dan kreaativitas. Definisi harga diri dalam penelitian ini merujuk pada perasaan kompetensi pribadi (kepercayaan diri) dan perasaan nilai pribadi (penghormatan diri). Sedangkan kreativitas adalah mengekspresikan dan mengakualisasikan identitas individu yang merupakan produksi suatu respon berupa karya yang baru yang dipenagruhi oleh faktor pribadi, proses, produk dan pendorong. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kontribusi kreativitas dan harga diri terhadap prestasi akdemik. Penelitian ini bersifat inferensial dengan metode kuantitatif. Subjek penelitian adalah mahasiswa Universitas Gunadarma tingkat 1-4 dari seluruah fakultas dengan total 122 orang laki-laki dan perempuan. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner berupa skala harga diri untuk variabel harga diri, tes kreativitas vigural untuk variabel kreativitas dan IPK untuk variabel prestasi akademik. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis dengan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada korelasi dan kontribusi antara kreativitas dan prestasi akademik. Sedangkan harga diri berkontribusi negatif terhadap prestasi akademik mahasiswa serta berkorelasi. Kegiatan ini dapat memberikan masukan bagi dunia psikologi pendidikan dan bagi masyarakat untuk dapat lebih menggali faktor-faktor lain yang menunjang prestasi akademik selain dari harga diri dan kreativitas.

Kelompok:
Siti Muvidah
Fitrah Qalbina
Nurul Wulandari
Tera Imanoviani
Zikrayati

Pembimbing:
Wahyu Rahardjo

“Aku IPA maka Aku Ada, Aku IPS maka Aku Tak Ada”

“Aku IPA maka Aku Ada, Aku IPS maka Aku Tak Ada”

Abnormal dalam Teori Eksistensial adalah :
Kegagalan untuk mengatasi kecemasan yang menyebabkan diri sendiri dan orang lain menghindari kebutuhan, tidak ada pilihan dalam hidup dan menciptakan tanggung jawab untuk arti hidupnya.

Kasus :
Institusionalisasi pendidikan merupakan syarat mutlak dalam sebuah masyarakat yang modern. Dalam praktiknya, siswa penimba ilmu dipilah berdasarkan bidang-bidang dengan konsentrasi yang berbeda. Dengan begitu diharapkan generasi muda dapat dibentuk menjadi pakar-pakar yang keahliannya dapat saling melengkapi untuk berkontribusi bagi masyarakat. Pada dasarnya, upaya konsentrasi keahlian yang dikenal sebagai praktik penjurusan ini bertujuan untuk menggodok setiap sumber daya manusia (SDM) dalam negeri agar memperoleh kompetensi yang dapat menempatkannya sebagai manusia yang produktif dalam masyarakatnya. Akan tetapi, bagi mereka yang pernah menjejak jenjang pendidikan SMA tentu pernah merasakan hawa diskriminasi ternyata begitu padat dalam praktik penjurusan ini. Saya pribadi pernah merasakan betapa prestisiusnya tatkala diterima di kelas IPA, ketimbang di kelas IPS atau Bahasa. Kendati saat itu saya bangga, namun piramida kebanggaan sistem pendidikan kita itu kemudian membelenggu saya untuk berkutat dengan topik-topik keilmuan yang tak saya minati. Sementara beberapa orang kawan dirajam rasa pilu yang mendalam ketika tahu bahwa nilainya tak mencukupi untuk masuk jurusan IPA. Diskriminasi irasional Saya kira, meski praktik diskriminasi yang melekat pada sistem penjurusan kita tak pernah rasional, praktik diskursif yang mendasarinya lebih banyak bekerja dalam aras praduga yang kadang emosional. Seperti pemahaman umum yang berkembang di kalangan SMA tentang “ditolak dari IPA”, namun tidak pernah ada istilah “ditolak dari IPS/Bahasa”. Struktur terminologis yang timpang ini membingkai persepsi khalayak bahwa masuk dalam jurusan non-IPA adalah semacam hukuman, alienasi atau pembuangan dari pendidikan yang bermutu. Selain itu, konsep jurusan eksakta kerap ditempelkan pada jurusan IPA, sedangkan jurusan IPS dan Bahasa dikonsepkan sebagai jurusan non-eksakta. Dengan penerjemahan secara bebas, IPA dapat dimaknai sebagai ilmu yang pasti, sedangkan IPS dan Bahasa sebagai ilmu yang non-pasti. Dalam piramida keilmuan yang telah tercerabut akarnya dari asumsi-asumsi filosofis, kadar “kepastian” seolah menjamin kemewahan dan otoritas daripada pandangan tentang keandalan keilmuan. Pada satu sisi mengakibatkan universitas-universitas swasta cenderung membuka kesempatan yang lebih luas bagi lulusan IPA. Macam jurusan yang mencakup ilmu kedokteran, ilmu teknik atau ilmu fisika, misalnya, tak mungkin menerima siswa dari lulusan IPS. Begitupun jurusan yang terkait dengan ilmu psikologi, ilmu sosial-ekonomi dan ilmu sosial-politik, justru membuka pintu yang lebar terhadap siswa lulusan IPA. Di sisi lain, implikasinya berkelindan dengan sistem ujian terpadu yang disepakati sebagai gerbang masuk perguruan tinggi negeri. Sistem ujian yang sekarang bernama SPMB ini cenderung menguntungkan bagi siswa dari jurusan IPA. Mata pelajaran yang diujikan dalam SPMB hari pertama adalah Matematika Dasar, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Adapun untuk SPMB hari kedua, soal jurusan IPA terdiri dari soal pelajaran Matematika IPA, Fisika, Kimia, Biologi, dan IPA Terpadu, sementara jurusan IPS terdiri dari soal pelajaran Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan IPS Terpadu. Dengan adanya kelas ujian IPC, siswa IPA—yang umumnya lebih menguasai mata pelajaran Matematika dasar—memiliki peluang yang lebih besar untuk dapat diterima di PTN yang prestisius. Sementara mata pelajaran IPS dapat dipelajari siswa IPA melalui metode menghafal dalam bimbingan belajar pra- SPMB. Sebaliknya, tidak bagi siswa IPS di mana mereka mengalami lebih banyak kesulitan menguasai mata pelajaran IPA karena memerlukan pemahaman yang mendalam dan latihan berulang kali. Meski darah dalam urat nadi sistem penjurusan telah tercemar oleh praktik diskriminasi yang tidak manusiawi ini, patut disyukuri bahwa masih ada semangat yang menyala baik di kalangan guru maupun siswa non-IPA. Karena ada sejumlah guru yang pernah mencoba menentang diskriminasi itu dengan mengatakan kepada mereka, para siswa, sebenarnya sejajar dengan siswa IPA. “Perlawanan eksistensial” ini juga diperkuat dengan kecenderungan narsis siswa non-IPA, yang telah menjadi minder dan rendah diri, lalu tak mau kalah terhadap siswa IPA yang dianggap unggul. Namun, bagaimanapun hebat semangat “perlawanan” itu, tetap saja ia belum mampu mengikis diskriminasi penjurusan ini. Karena waktu, masalah pun dianggap remeh. Tanpa memerhatikan berapa besar biaya psikologis dari para siswa yang merasa kalah (dikalahkan), minder dan terbuang. Jika begitu, setidaknya setengah dari siswa SMA kita akan mengalami kemandekan dalam aktualisasi dan penegakan eksistensi. Sebuah kerugian besar. Sampai para pengambil kebijakan sadar akan kekeliruan logika pemilahan jurusan yang bisa fatal akibatnya itu.

Pembahasan Kasus :
Anak IPS mengalami kecemasan akan jurusan yang mereka ambil. Kecemasannya membuat anak-anak yang masuk jurusan IPS merasa dirinya mendapat pembuangan dari pendidikan yang bermutu/hukuman. Mereka merasa bahwa lulusan IPS tidak dibutuhkan dalam universitas-universitas swasta karena kebanyakan jurusan di Universitas membuka kesempatan lebih luas bagi lulusan IPA. Yang mungkin membuat lulusan IPS tidak mau bersaing ataupun melanjutkan kuliah, karena lulusan IPS sudah minder dan merasa rendah diri yang berlebihan. Sehingga anak IPS merasa tidak layak melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan-jurusan yang dia minati dan tidak diizinkan mengambil jurusan yang hanya untuk lulusan IPA apalagi saat SPMB. Namun ada anak IPA yang sebenarnya tidak berminat masuk IPA mereka masuk jurusan IPA karena menurut mereka bidang IPA lebih dianggap mewah. Akibatnya anak IPA tersebut merasa tertekan. Anak IPS jadi kurang bertanggungjawab akan jurusan yang telah mereka pilih. Anak IPS jadi tak bersemangat untuk melanjutkan kuliah bahkan mungkin stess atau bunuh diri akibat anak IPS yang tak dianggap keberadaannya.

Metode yang digunakan adalah :
Mendorong klien untuk menerima keadaan, tanggungjawab, membuka peluang dan berhubungan dengan orang lain.

Penyelesaian masalah dari kasus tersebut :
Seharusnya klien menerima apapun jurusan yang mereka pilih. Anak IPS harus membuktikan bahwa anak IPS bisa seperti anak IPA. Apapun jurusannya kita harus bertanggungjawab atas pilihan yang telah kita pilih. Kita harus membuktikan bahwa anak IPS bisa bersaing di Universitas baik negeri maupun swasta. Bagi anak IPA yang sebenarnya tidak berminat masuk IPA tapi mereka masuk jurusan IPA karena menurut mereka bidang IPA lebih dianggap mewah yang mengakibatkan anak IPA tersebut merasa tertekan, seharusnya mereka menjalankan apa yang mereka pilih dan bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Dan untuk anak IPS yang merasa keberadaannya tidak di anggap tidak usah bunuh diri karena masih ada jalan keluar yang lebih baik daripada menyakiti diri sendiri yaitu membuktikan kepada semua orang bahwa anak IPS itu juga bisa seperti anak IPA.

DAFTAR PUSTAKA

Ginanjar, S, Yunita, B. (2001). Jurnal Psikologi Sosial. Depok : Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia Kampus Baru Depok 16424.
Riyanto, G. Aku IPA maka Aku Ada. http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/12/
humaniora/3526503. htm

« Entri lama