N4jm4’s Blog

September 10, 2009

“Aku IPA maka Aku Ada, Aku IPS maka Aku Tak Ada”

Filed under: Uncategorized — n4jm4 @ 4:16 am

“Aku IPA maka Aku Ada, Aku IPS maka Aku Tak Ada”

Abnormal dalam Teori Eksistensial adalah :
Kegagalan untuk mengatasi kecemasan yang menyebabkan diri sendiri dan orang lain menghindari kebutuhan, tidak ada pilihan dalam hidup dan menciptakan tanggung jawab untuk arti hidupnya.

Kasus :
Institusionalisasi pendidikan merupakan syarat mutlak dalam sebuah masyarakat yang modern. Dalam praktiknya, siswa penimba ilmu dipilah berdasarkan bidang-bidang dengan konsentrasi yang berbeda. Dengan begitu diharapkan generasi muda dapat dibentuk menjadi pakar-pakar yang keahliannya dapat saling melengkapi untuk berkontribusi bagi masyarakat. Pada dasarnya, upaya konsentrasi keahlian yang dikenal sebagai praktik penjurusan ini bertujuan untuk menggodok setiap sumber daya manusia (SDM) dalam negeri agar memperoleh kompetensi yang dapat menempatkannya sebagai manusia yang produktif dalam masyarakatnya. Akan tetapi, bagi mereka yang pernah menjejak jenjang pendidikan SMA tentu pernah merasakan hawa diskriminasi ternyata begitu padat dalam praktik penjurusan ini. Saya pribadi pernah merasakan betapa prestisiusnya tatkala diterima di kelas IPA, ketimbang di kelas IPS atau Bahasa. Kendati saat itu saya bangga, namun piramida kebanggaan sistem pendidikan kita itu kemudian membelenggu saya untuk berkutat dengan topik-topik keilmuan yang tak saya minati. Sementara beberapa orang kawan dirajam rasa pilu yang mendalam ketika tahu bahwa nilainya tak mencukupi untuk masuk jurusan IPA. Diskriminasi irasional Saya kira, meski praktik diskriminasi yang melekat pada sistem penjurusan kita tak pernah rasional, praktik diskursif yang mendasarinya lebih banyak bekerja dalam aras praduga yang kadang emosional. Seperti pemahaman umum yang berkembang di kalangan SMA tentang “ditolak dari IPA”, namun tidak pernah ada istilah “ditolak dari IPS/Bahasa”. Struktur terminologis yang timpang ini membingkai persepsi khalayak bahwa masuk dalam jurusan non-IPA adalah semacam hukuman, alienasi atau pembuangan dari pendidikan yang bermutu. Selain itu, konsep jurusan eksakta kerap ditempelkan pada jurusan IPA, sedangkan jurusan IPS dan Bahasa dikonsepkan sebagai jurusan non-eksakta. Dengan penerjemahan secara bebas, IPA dapat dimaknai sebagai ilmu yang pasti, sedangkan IPS dan Bahasa sebagai ilmu yang non-pasti. Dalam piramida keilmuan yang telah tercerabut akarnya dari asumsi-asumsi filosofis, kadar “kepastian” seolah menjamin kemewahan dan otoritas daripada pandangan tentang keandalan keilmuan. Pada satu sisi mengakibatkan universitas-universitas swasta cenderung membuka kesempatan yang lebih luas bagi lulusan IPA. Macam jurusan yang mencakup ilmu kedokteran, ilmu teknik atau ilmu fisika, misalnya, tak mungkin menerima siswa dari lulusan IPS. Begitupun jurusan yang terkait dengan ilmu psikologi, ilmu sosial-ekonomi dan ilmu sosial-politik, justru membuka pintu yang lebar terhadap siswa lulusan IPA. Di sisi lain, implikasinya berkelindan dengan sistem ujian terpadu yang disepakati sebagai gerbang masuk perguruan tinggi negeri. Sistem ujian yang sekarang bernama SPMB ini cenderung menguntungkan bagi siswa dari jurusan IPA. Mata pelajaran yang diujikan dalam SPMB hari pertama adalah Matematika Dasar, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Adapun untuk SPMB hari kedua, soal jurusan IPA terdiri dari soal pelajaran Matematika IPA, Fisika, Kimia, Biologi, dan IPA Terpadu, sementara jurusan IPS terdiri dari soal pelajaran Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan IPS Terpadu. Dengan adanya kelas ujian IPC, siswa IPA—yang umumnya lebih menguasai mata pelajaran Matematika dasar—memiliki peluang yang lebih besar untuk dapat diterima di PTN yang prestisius. Sementara mata pelajaran IPS dapat dipelajari siswa IPA melalui metode menghafal dalam bimbingan belajar pra- SPMB. Sebaliknya, tidak bagi siswa IPS di mana mereka mengalami lebih banyak kesulitan menguasai mata pelajaran IPA karena memerlukan pemahaman yang mendalam dan latihan berulang kali. Meski darah dalam urat nadi sistem penjurusan telah tercemar oleh praktik diskriminasi yang tidak manusiawi ini, patut disyukuri bahwa masih ada semangat yang menyala baik di kalangan guru maupun siswa non-IPA. Karena ada sejumlah guru yang pernah mencoba menentang diskriminasi itu dengan mengatakan kepada mereka, para siswa, sebenarnya sejajar dengan siswa IPA. “Perlawanan eksistensial” ini juga diperkuat dengan kecenderungan narsis siswa non-IPA, yang telah menjadi minder dan rendah diri, lalu tak mau kalah terhadap siswa IPA yang dianggap unggul. Namun, bagaimanapun hebat semangat “perlawanan” itu, tetap saja ia belum mampu mengikis diskriminasi penjurusan ini. Karena waktu, masalah pun dianggap remeh. Tanpa memerhatikan berapa besar biaya psikologis dari para siswa yang merasa kalah (dikalahkan), minder dan terbuang. Jika begitu, setidaknya setengah dari siswa SMA kita akan mengalami kemandekan dalam aktualisasi dan penegakan eksistensi. Sebuah kerugian besar. Sampai para pengambil kebijakan sadar akan kekeliruan logika pemilahan jurusan yang bisa fatal akibatnya itu.

Pembahasan Kasus :
Anak IPS mengalami kecemasan akan jurusan yang mereka ambil. Kecemasannya membuat anak-anak yang masuk jurusan IPS merasa dirinya mendapat pembuangan dari pendidikan yang bermutu/hukuman. Mereka merasa bahwa lulusan IPS tidak dibutuhkan dalam universitas-universitas swasta karena kebanyakan jurusan di Universitas membuka kesempatan lebih luas bagi lulusan IPA. Yang mungkin membuat lulusan IPS tidak mau bersaing ataupun melanjutkan kuliah, karena lulusan IPS sudah minder dan merasa rendah diri yang berlebihan. Sehingga anak IPS merasa tidak layak melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan-jurusan yang dia minati dan tidak diizinkan mengambil jurusan yang hanya untuk lulusan IPA apalagi saat SPMB. Namun ada anak IPA yang sebenarnya tidak berminat masuk IPA mereka masuk jurusan IPA karena menurut mereka bidang IPA lebih dianggap mewah. Akibatnya anak IPA tersebut merasa tertekan. Anak IPS jadi kurang bertanggungjawab akan jurusan yang telah mereka pilih. Anak IPS jadi tak bersemangat untuk melanjutkan kuliah bahkan mungkin stess atau bunuh diri akibat anak IPS yang tak dianggap keberadaannya.

Metode yang digunakan adalah :
Mendorong klien untuk menerima keadaan, tanggungjawab, membuka peluang dan berhubungan dengan orang lain.

Penyelesaian masalah dari kasus tersebut :
Seharusnya klien menerima apapun jurusan yang mereka pilih. Anak IPS harus membuktikan bahwa anak IPS bisa seperti anak IPA. Apapun jurusannya kita harus bertanggungjawab atas pilihan yang telah kita pilih. Kita harus membuktikan bahwa anak IPS bisa bersaing di Universitas baik negeri maupun swasta. Bagi anak IPA yang sebenarnya tidak berminat masuk IPA tapi mereka masuk jurusan IPA karena menurut mereka bidang IPA lebih dianggap mewah yang mengakibatkan anak IPA tersebut merasa tertekan, seharusnya mereka menjalankan apa yang mereka pilih dan bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Dan untuk anak IPS yang merasa keberadaannya tidak di anggap tidak usah bunuh diri karena masih ada jalan keluar yang lebih baik daripada menyakiti diri sendiri yaitu membuktikan kepada semua orang bahwa anak IPS itu juga bisa seperti anak IPA.

DAFTAR PUSTAKA

Ginanjar, S, Yunita, B. (2001). Jurnal Psikologi Sosial. Depok : Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia Kampus Baru Depok 16424.
Riyanto, G. Aku IPA maka Aku Ada. http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/12/
humaniora/3526503. htm

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: