N4jm4’s Blog

September 10, 2009

PI Ku (Perilaku seks pranikah pada remaja yang menggunakan Cybersex)

Filed under: Uncategorized — n4jm4 @ 3:00 am

Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi yang semakin pesat menyebabkan banyaknya penemuan yang dapat memudahkan aktivitas manusia. Teknologi tersebut membantu manusia dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang timbul dari batas-batas jarak, ruang, dan waktu. Penemuan teknologi internet semakin memudahkan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya pada jarak yang sangat jauh. Melalui teknologi internet ini, berita dapat ditampilkan dengan cara yang sangat ringkas dan sangat mudah untuk disebarkan ke seluruh penjuru dunia.
Internet merupakan kumpulan orang dan komputer didunia yang seluruhnya terhubung oleh bermil-mil kabel dan saluran telepon, masing-masing pihak dapat berkomunikasi karena menggunakan bahasa yang umum dipakai (Lembaga Pengembangan Komputerisasi, 1999).
Perkembangan dunia cyber dewasa ini sudah semakin pesat. Penggunaannya pun sudah mencapai suatu taraf yang sangat komplek. Internet yang berkembang sebagai media yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat di berbagai belahan dunia menjadikan setiap orang memperoleh kesempatan untuk mengakses informasi apapun dengan cepat. Situs di internet merupakan jendela dari berbagai informasi, dan keragamannya memungkinkan setiap orang dapat memperoleh informasi yang diinginkan tersaji secara lengkap di layar, bahkan berinteraksi dan melakukan transaksi dengan penyedia jasa tersebut atau hanya sekedar bertukar informasi.
Beberapa fakta terbaru di Indonesia, dari sekitar 1,8 juta penduduk Indonesia telah mengenal internet dan 50% diantaranya tidak mampu menahan diri untuk tidak mengunjungi cybersex (Soebagijo, 2008).
Menurut Papu (2001), cybersex merupakan perilaku individu yang sering membuka situs porno di internet dan dapat mengakibatkan kecanduan. Ada dua pandangan yang muncul sehubungan dengan hal tersebut yang pertama adalah pandangan yang menganggap situs porno mendorong terjadinya hal-hal yang bersifat patologis bagi user. Pandangan ini cenderung berfokus pada perilaku addictive dan compulsive. Kedua adalah pandangan yang menganggap bahwa situs porno hanya merupakan sarana untuk mengeksplorasi dan mencari informasi mengenai masalah-masalah seksual. Dengan kata lain mengakses situs porno merupakan suatu ekspresi seksual.
Menurut perspektif sosial dan kebudayaan, setiap introdiksi satu jenis teknologi ke dalam sebuah masyarakat pasti akan mendorong berlangsungnya berbagai perubahan. Apa yang kemudian dikenal sebgai e-commerce, atau cybersex, adalah sebagian contoh dari beberapa perubahan radikal dalam lingkup ekonomi dan sosial masyarakat postmodern saat ini yang mustahil muncul tanpa kehadirat internet. Setiap bentuk perubahan sosial dan kebudayaan cenderung akan melahirkan beberapa problem psikososial yang baru (Dewi, 2008).
Budaya global tersebut secara positif memiliki muatan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial dan kebudayaan, tetapi secara negatif juga bermuatan materi pornografi yang mempertontonkan dan memperdengarkan perilaku seksual melalui media majalah, surat kabar, tabloid, buku-buku, televisi, radio, internet, film-film, dan video. Teknologi informasi tersebut memungkinkan setiap orang dapat berkomunikasi secara interaktif mengenai hal-hal yang berorientasi seksual secara online melalui internet (Syarif, 2008).
Unsur pokok dari perilaku cybersex, adalah kesengajaan, dan merangsang nafsu seksual. Unsur tambahannya menimbulkan pikiran-pikiran kotor. Jassin (dalam Amali, 2002) mendefinisikan pornografi sebagai tulisan atau gambar yang dianggap kotor, karena dapat menimbulkan nafsu seks atau perbuatan immoral, seperti tulisan-tulisan yang sifatnya merangsang, gambar-gambar wanita telanjang , dan sebagainya.
Perilaku cyberseks apabila dihubungkan dengan istilah Psikologi dapat dikategorikan kedalam penyimpangan perilaku seksual seperti, parafilia (daya tarik seksual terhadap obyek-obyek yang tidak biasa, dan aktivitas-aktivitas seksual yang luar biasa sifatnya), voyeurism (kepuasan seksual yang diperoleh dengan melihat genital orang lain atau dengan melihat kegiatan seksual orang lain, juga dikenal dengan nama scopophilia) (Amali, 2004).
Menurut Allgeier dan Allgeier (dalam Hariyanthi, 2001), media erotika dapat digolongkan menjadi dua bentuk yaitu erotika secara kasar (hard core erotica), dan erotika secara halus (soft core erotica). Erotika secara kasar merupakan materi seksual yang menggambarkan genital dan aktivitas seksual secara eksplisit, seperti pada video, disket dan film porno. Adapun erotika secara halus merupakan materi seksual yang mengarah pada penggambaran genital dan aktivitas seksual secara eksplisit, seperti cerita erotis pada buku, majalah atau tabloid.
Menurut Leiblum (dalam Amali, 2005), cybersex adalah suatu jenis ungkapan seksual yang mencakup suatu rangkaian dari kecurigaan yang sederhana menjadi sesuatu yang mengganggu pikiran. Sementara Shoelhi (2001) mengemukakan bahwa maraknya pornografi telah menjadi bagian keseharian remaja sehingga remaja menjadi ilusif, hidupnya diliputi bayang-bayang kosong, lebih suka melamun, meremahkan nilai-nilai sosial bahkan pada taraf yang lebih buruk lagi, remaja menyalahgunakan seks.
Awalnya media massa elektronik tersebut sangat membantu masyarakat dalam memperoleh informasi dan hiburan dengan mudah. Di balik kemudahan itu tanpa disadari media massa elektronik juga menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat khususnya remaja, dengan bebasnya media massa elektronik menyajikan tontonan yang tidak memperlihatkan norma-norma sosial seperti perilaku seks pranikah, akan mempengaruhi perilaku masyarakat terutama pada remaja yang taraf berfikirnya belum matang.
Menurut Gunarsa (1991), istilah asing yang sering digunakan untuk menunjukkan masa remaja antara lain adolescentia berasal dari istilah latin adolescentia yang berarti masa muda yang terjadi antara 17 – 30 tahun yang merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial. Proses perkembangan psikis remaja dimulai antara 12 – 22 tahun. Untuk menjadi orang dewasa, mengutip pendapat Erikson, maka remaja akan melalui masa krisis di mana remaja berusaha untuk mencari identitas diri (Search for self – Identity) (Dariyo, 2004).
Usia remaja adalah masa di mana berbagai aspek dalam diri manusia berada dalam tahap transisi antara masa anak-anak menuju ke kehidupan dewasa. Dari semua perubahan yang terjadi dalam hal hubungan dengan lawan jenis, yang paling menonjol terjadi dalam sikap dan perilaku sosial pada masa remaja. Pada masa remaja terjadi perubahan bentuk persahabatan antara sesama jenis ke persahabatan dengan lawan jenis seperti berpacaran (Widianti, 2006).
Secara umum pada saat berpacaran banyak terjadi hal-hal yang di luar dugaan. Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa aktifitas pacaran remaja sekarang ini cenderung sampai kepada level yang sangat jauh. Bukan sekedar kencan, jalan-jalan dan berduaan, tetapi data menunjukkan bahwa ciuman, rabaan anggota tubuh dan bersetubuh secara langsung sudah merupakan hal yang biasa terjadi (Anonym, 2005).
Seks pranikah adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh pria dan wanita yang belum terikat tali perkawinan, yang pada akhirnya mereka akan menikah satu sama lain atau masing-masing akan menikah dengan orang lain (Amelia, 2007).
Seks pranikah adalah hubungan yang dilakukan tanpa adanya ikatan perkawinan. lebih lanjut lagi ada beberapa tokoh yang menyatakan bahwa hubungan seks pra nikah adalah hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan yang mengikuti suatu proses peningkatan perilaku seksual yaitu mulai dari ciuman atau percumbuan berat serta hubungan kelamin sebagai proses akhir (dalam Suci, 2006).
Menurut penelitian Faturochman (1992), terdapat perbedaan sikap dan perilaku permisif antara pria dan wanita terhadap hubungan perilaku seks pranikah remaja. Perbedaan ini antara lain disebabkan adanya standar ganda yang berlaku di masyarakat yang membedakan kebebasan pria dan wanita dalam perilaku seksnya. Tetapi untuk mencegah perilaku seks pranikah tersebut maka peran norma sangat besar dan aktualisasi diri dari norma tersebut terlihat dalam kontrol sosial.
Perilaku seksual ialah perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri. Sedangkan perilaku seks pranikah merupakan perilaku seks yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing individu (dalam Admin, 2008).
Perilaku seks pranikah ini memang kasat mata, namun ia tidak terjadi dengan sendirinya melainkan didorong atau dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata). Dengan demikian individu tersebut tergerak untuk melakukan perilaku seks pranikah (Reeluppy, 2008).
Aktifitas seksual pada dasarnya adalah bagian dari naluri yang pemenuhannya sangat dipengaruhi stimulus dari luar tubuh manusia dan alam berfikirnya. Meminimalkan hal-hal yang merangsang, mengekang ledakan nafsu dan menguasainya. Masa remaja memang sangat memperhatikan masalah seksual. Banyak remaja yang menyukai bacaan porno, melihat film-film porno. Semakin bertambah jika mereka berhadapan dengan rangsangan seks seperti suara, pembicaran, tulisan, foto, sentuhan, dan lainnya. Hal ini akan mendorong remaja terjebak dengan kegiatan seks yang haram (dalam Syarif, 2008).
Menurut penelitian Soetjiningsih (dalam Adhisupo, 2008), tahap-tahap perilaku seksual pranikah di kalangan remaja ini, dirinci sampai 12 tahapan. Dari berpegangan tangan, peluk pinggang, cium bibir, meraba-raba daerah erogen, saling menempelkan alat kelamin dalam keadaan berpakaian maupun tanpa pakaian sampai hubungan seksual. Sementara penelitian Amelia (2007) menyatakan alasan remaja putri yang telah melakukan seks pranikah dengan pacarnya adalah karena adanya tekanan dari teman pergaulan, tekanan dari pacar, kebutuhan badaniah, rasa penasaran dan kecenderungan pelanggaran makin meningkat dari media massa elektronik.
Berdasarkan hasil penelitian Soetjiningsih, dari 398 subjek penelitian sebagian besar sekitar 84% (334 remaja) menyatakan hubungan seks pranikah adalah salah (tidak boleh) dengan alasan terbanyak karena dosa atau dilarang agama dan itu boleh dilakukan setelah ada ikatan pernikahan. Sedangkan 60 % subjek penelitian menyatakan bahwa tingkat perilaku seksual yang boleh dilakukan sebelum menikah adalah sebatas ciuman bibir sambil pelukan. Aktivitas ciuman semacam ini oleh banyak kalangan remaja dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau wajar.
Menurut penelitian Indrijati (2001), ternyata sikap seks pranikah remaja dapat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi remaja dengan orang tua. Semakin meningkat (positif) kualitas komunikasi remaja dan orang tua maka sikapnya semakin tidak mendukung (menolak/menjauh/negatif) terhadap hubungan seks pranikah atau sebaliknya, jika semakin menurun (negatif) terhadap kualitas komunikasi remaja dan orang tua maka sikapnya semakin mendukung (menerima/positif) terhadap hubungan seks pranikah.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Indonesia tahun 2000, jumlah remaja usia 10-24 tahun mencapai sekitar 60.901.709 atau 30% dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 201.241.999 jiwa (BPS, Sensus Penduduk Indonesia Tahun 2000). Melihat jumlahnya yang sangat besar, maka remaja sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan menjadi manusia yang sehat secara jasmani, rohani dan mental spiritual. Faktanya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak remaja, pada usia dini sudah terjebak dalam perilaku reproduksi tidak sehat, diantaranya adalah seks pra nikah.
Dari data-data yang ada menunjukkan remaja yang belum menikah di 12 kota besar di Indonesia menyatakan pernah melakukan hubungan seks (YKB,1993). 27% remaja laki-laki dan 9% remaja perempuan di Medan (15-24 tahun) mengatakan sudah pernah melakukan hubungan seksual (Situmorang, 2001). 75 dan 100 remaja yang belum menikah di Lampung pernah melakukan hubungan seks (studi PKBI, tahun 1997). Di Denpasar Bali, dari 633 pelajar SLTA kelas II, sebanyak 23,4% (155 remaja) mempunyai pengalaman hubungan seks, 27% putra dan 18% putri (Pangkahila, Wempie, Kompas, 19/09/1996).
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dampak penggunaan cybersex dapat mempengaruhi perilaku seks pranikah pada remaja, cybersex dapat mengakibatkan kecanduan serta merangsang nafsu seksual dan menimbulkan pikiran-pikiran kotor atau perbuatan immoral yang mengakibatkan prilaku seks pranikah pada remaja tersebut. Untuk itu peneliti ingin meneliti lebih lanjut penggunaan cybersex terhadap perilaku seks pranikah remaja.

6 Komentar »

  1. maaf saya ingin bertanya, apakah saya dapat mengetahui sumber artikel ini dari mana? soalnya saya ingin menggunakan artikel ini dalam skripsi saya.
    atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

    Komentar oleh dinny — Februari 23, 2010 @ 9:00 am

  2. maaf saya ingin bertanya, apakah saya dapat mengetahui sumber artikel ini dari mana? soalnya saya ingin menggunakan data dalam artikel ini untuk skripsi saya.
    atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

    Komentar oleh dinny — Februari 23, 2010 @ 9:02 am

  3. maaf saya ingin bertanya, apakah saya dapat mengetahui sumber data dari artikel ini…
    karna dari data artikel ini saya ingin masukkan kedalam skripsi saya…
    atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

    Komentar oleh dinny — Februari 23, 2010 @ 9:27 am

  4. maaf anda punya reverensi buku tenteng cybersex???? saya sangat mebutuhkan buku tersebut untuk menyelesaikan skripsi saya. SAya sudah nyari buku tersebut disemarang tapi tidak mendapatkannya dengan alasan tidak terbit lagi. Apakah anda dapat membantu saya. Terimakasih

    Komentar oleh Echa — April 22, 2010 @ 8:06 am

    • buku nya ada d kampus UI..

      Komentar oleh n4jm4 — Mei 10, 2010 @ 2:33 am

  5. trima kasih informasinya mbak…

    Komentar oleh hary — Mei 25, 2010 @ 6:49 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: